Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

MOMEN INERSIA

  Artikel Fisika kelas 11 ini membahas tentang konsep momen inersia, serta contoh penerapannya di kehidupan sehari-hari -- Coba perhatikan mainan di atas deh. Benda-benda yang akan diluncurkan itu punya bentuk yang berbeda-beda. Mulai dari kotak, bola pejal (padat), bola berongga, silinder pejal, maupun cincin. Menurut kamu, jika semuanya dilepaskan secara bersamaan dari atas, benda mana yang pertama kali sampai bawah? Biar kayak judul-judul berita heboh, maka sekarang perlu tambahan kalimat: Bendanya tidak akan terduga dan kamu harus cari tahu di akhir artikel ini! Cihuy gak? Well , untuk mencari tahu jawabannya, kita perlu memahami konsep Momen Inersia. Ini tuh topik yang masih nyambung banget sama torsi dari tulisan  Momen Gaya dan   Misteri Gagang Pintu .  Pastiin baca dulu ya sebelum lanjut ke sini. Kalau Torsi/Momen Gaya merupakan suatu  besaran   yang diperlukan  untuk membuat benda berotasi pada porosnya, Momen Inersia merupakan suatu ukuran  kelembaman/suatu benda untuk berput

MOMEN GAYA

  Momen gaya (torsi) dilambangkan dengan Ï„  (dibaca tau)   dan merupakan besaran vektor, sehingga dapat bernilai positif maupun negatif. Torsi akan bernilai positif jika arah putarannya berlawanan jarum jam dan akan bernilai negatif jika arah putarannya searah jarum jam. Lalu, apa hubungannya momen gaya (torsi) dengan letak gagang pintu? Jika kita anggap engsel pintu adalah sumbu putar (poros), maka jarak gagang pintu dengan engsel merupakan lengan momen (d). Kemudian, kalau kamu perhatikan rumus di atas,  momen gaya (torsi)  akan  sebanding dengan lengan momen (d) dan gaya (F) . Artinya, semakin besar lengan momen (d) dan gaya yang dikeluarkan, semakin besar pula momen gaya yang dihasilkan. Hal ini yang memudahkan kita untuk membuka atau menutup pintu. Masih belum paham? Oke, praktiknya begini Squad, saat kamu membuka atau menutup pintu dengan mendorong atau menarik gagang pintu di bagian ujung atau bagian yang jauh dari engsel, pintu akan lebih mudah terbuka atau tertutup. Kenapa? Ka

Analisis Vektor

penjumlahan vektor selain menggunakan metode grafis (segitiga, jajaran genjang dan poligon) juga dapat menggunakan metode analisis. dengan rumusan :  bisa juga R 2 = A 2 +B 2 +AB cos alfa soal : 1. Diketahui dua vektor gaya besarnya sama yaitu 36 Newton. Jika kedua resultan vektor tersebut saling membentuk 120 derajat, maka resultan kedua vektor tersebut adalah... a. 36 Newton b. 35 Newton c. 34 Newton d. 33 Newton e. 32 Newton Pembahasan R² = Fx² + Fy² + 2 Fx Fy cos α R² =  36 ² +  - 36 ² + 2  .  36 .   36  cos  120 R= 36 Newton Maka resultan vektor adalah 36 Newton (a) 2. Dua buah vektor kecepatan mempunyai titik pangkal berhimpit. jika besar masing-masing vektor adalah 3 m/s dan 4 m/s, tentukan besar resultan kedua buah vektor tersebut, jika membentuk sudut 60 0 ! 3. Sebuah perahu bergerak dengan kecepatan 0,8 m/s dengan arah tegak lurus terhadap arah arus sungai yang kecepatannya 0,6 m/s. Jika lebar sungai tersebut 8 meter, maka jarak yang ditempuh perahu tersebut hingga mencap

Penjumlahan dan Pengurangan Vektor

  Metode Segitiga Metode segitiga merupakan metode penjumlahan vektor dengan menempatkan pangkal vektor kedua pada ujung vektor pertama. Hasil penjumlahan vektornya yaitu vektor yang memiliki pangkal di titik pangkal vektor pertama dan ujung di ujung vektor kedua. Misalkan terdapat dua vektor A dan B, maka penjumlahan kedua vektor tersebut dengan metode segitiga adalah sebagai berikut: Metode Jajargenjang Metode jajargenjang merupakan metode penjumlahan dua vektor yang ditempatkan pada titik pangkal yang sama, sehingga hasil kedua vektornya merupakan diagonal jajargenjang. Misalkan, terdaat dua vektor A dan B, maka penjumlahan kedua vektor tersebut dengan metode jajargenjang adalah sebagai berikut: Metode Poligon Metode poligon merupakan metode penjumlahan dua vektor atau lebih. Metode ini dilakukan dengan cara menempatkan pangkal vektor kedua pada ujung vektor pertama, kemudian menempatkan pangkal vektor ketiga di ujung vektor kedua dan seterusnya. Resultan dari penjumlahan vektor-vek

Dimensi

 Dimensi besaran pokok dituliskan dengan lambang huru besar tertentu yang diberi kurung persegi : dan untuk besaran turunan : soal : 1.        Energi Kinetik memiliki persamaan Ek= ½ mv 2 . Maka dimensi dari energi Kinetik adalah …. A.        [M][L] 2 [T] 2 B.       [M][L] 2 [T] -2 C.        [M][L][T] -2 D.       [M][L] 2 [T] E.        [M][L] 2 [T] -1 jawab : B Ek      = ½ mv 2               =  ½  [M]( [L] [T] -1 ) 2                 =       [M][L] 2 [T] -2    

Satuan Internasional

 Dalam fisika terdapat beberapa sistem internasional yang disepakati, yaitu MKS (meter, kilogram, sekon) dan CGS (centi, gram, sekon) serta FPS (foot, pound, sekon). sistem ini memudahkan dalam pengkonversian ketika mengoperasikanya dalam sebuah besaran fisika lebih dari satu.  soal : 1.        Kota A berjarak 50km dari kota B. 50km jika dinyatakan dalam satuan pikometer menjadi …. A.       5x10 15 pm B.       5x10 13 pm C.       5x10 11 pm D.       5x10 16 pm E.        5x10 9 pm jawab : B 

Besaran Pokok dan Turunan

 Dalam fisika terdapat dua jenis besaran, yaitu besaran pokok dan turunan. Besaran pokok adalah besaran fisika yang satuannya ditetapkan melalui sebuah kesepakatan terlebih dahulu sehingga menjadi sumber rujukan besaran-besaran turunannya.  besaran turunan adalah besaran yang satuanya diturunkan dari satuan besaran pokok soal : 1.        Besaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan turunan. Dibawah ini merupakan contoh dari besaran pokok dalam fisika adalah …. A.       Panjang, massa, berat B.       Massa, waktu, kecepatan C.       Suhu, intensitas cahaya, massa D.       Momentum, impuls, momen E.        Waktu, kuat arus, hambatan jawab : C

Ketidakpastian Pengukuran

karena semua pengukuran, baik pengukuran tunggal maupun berulang selalu diliputi kesalahan, maka hasil suatu pengukuran harus dilaporkan dengan menyertakan ketidakpastian dari nilai yang diukur. jika kita melakukan pengukuran tunggal, maka dilaporkan dengan notasi sebagai berikut : x = x 0 ± ½ skala terkecil soal : dalam suatu pengukuran tegangan listrik diperoleh pembacaan 10,5 volt. jika alat ukur yang digunakan mempunyai skala terkecil 0,1 volt, tentukan hasil pengukuran tersebut ! jawab : (10,5  ±   ½ (0,1)) =  (10,5  ±   ½ 0,05) volt

Angka penting

Angka penting adalah angka-angka yang diperlukan dalam suatu bilangan decimal untuk menyatakan ketelitian alat ukur yang digunakan dalam memperoleh bilangan tersebut. Aturan angka penting meliputi : a.        Semua angka bukan nol adalah angka penting, contoh : 5,45 memiliki tiga angka penting b.       Angka nol yang terdapat diantara angka bukan nol adalah angka penting, contoh : 2,505 memiliki empat angka penting c.        Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol dalam system bilangan decimal, adalah bukan angka penting, contohnya 0,0435 memiliki tiga angka penting d.       Angka nol yang terletak di sebelah kanan angka bukan nol dalam system bilangan decimal, adalah angka penting, contohnya 0,04350 memiliki empat angka penting e.       Angka nol yang terletak di sebelah kanan angka bukan nol bukan dalam system bilangan decimal, adalah bukan angka penting, contohnya 4350 memiliki tiga angka penting a.        Pada notasi ilmiah ( a x 10 n ), adalah angka p

Notasi ilmiah

 Pengukuran besaran fisika serig berhubugan dengan bilangan yang sangat besar atau sangat kecil semisal kecepatan cahaya (200.792.458 m/s) dan massa sebuah atom hydrogen (0,0000000000000000000000017 gram). Maka diperlukan cara penulisan yang lebih efisen yang disebut notasi ilmiah dengan rumusan berikut : a x 10 n     a       = basis (1 ≤ a ≤10) 10 n       = orde n       = pangkat atau eksponen Soal : Nyatakan notasi ilmiah bilangan-bilangan berikut : a.        0,543 X 10 4 b.       12.346.789 c.        0,00000123 Penyelesaian a.        5,43 x 10 3 b.       12.346.789   = 1,2346789 x 10 7 c.        0,00000123 = 1,23 x 10 -6